Thursday, October 31, 2013

DIA (adalah Kamu ^^) 4

"Cinta adalah menyimpan, di simpan dan tersimpan untuk waktu yang tepat"

Banyak yang bertanya padaku, mengapa aku lebih memilih diam, mengapa tidak kuungkapkan saja perasaanku pada Dia, toh kesempatan itu sudah di depan mata, dengan begitu aku tak akan tersiksa dengan perasaanku sendiri. Mengapa? Mengapa? dan lagi lagi Mengapa?
Aku hanya tersenyum dengan pertanyaan yang selalu sama setiap bertemu dengan beberapa temanku. Asal mereka tau saja, aku tak pernah tersiksa dengan rasa yang tidak pernah kuungkapkan, justru aku menyukainya karena semakin aku menyimpannya maka semakin menarik aku menikmati kehidupanku :)

Ayah selalu berkata padaku

"Jangan pernah mengatakan cinta kepada lelaki manapun, kecuali ia telah sah menjadi milikmu"

Mungkin karena kalimat inilah, aku terlahir menjadi perempuan yang memegang prinsip kuno, bahwa aku tak boleh mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu, bahwa aku harus tetap menyimpannya dan lagi, menunggunya.

Pertemuan di Masjid itu berakhir begitu saja, aku tetap memilih diam dan Dia? Entahlah, aku kembali ke duniaku yang senyap, dunia yang lagi-lagi hanya aku seorang diri yang menikmatinya :(

Jika aku berbicara tentang waktu, maka waktu  berjalan lagi-lagi dengan sangat lambat, Dia pulang ke kota tempatnya harus melanjutkan study, sedang aku mulai di sibukkan dengan persiapan UN ku kala itu. Lagi-lagi tak ada komunikasi di antara kami (huh jangan berharap ada, toh dia tak pernah tau perasaanku), lagi-lagi kegamangan dan lagi-lagi hening.

Aku menjalani kehidupan yang sangat lambat selama 4 tahun semenjak pertemuan terakhir kami di Masjid waktu itu, aku tak pernah mengira jika tahun ini adalah tahun ke 6 aku menyukainya, tahun ke 6 aku tetap memilih bungkam dan tahun ke 6 aku tetap memilih dia sebagai orang yang ku sukai :)

Enam tahun, bukan waktu yang singkat menurut sebagian orang, bahkan beberapa teman menilaiku sebagai orang yang aneh -_-, tapi lagi dan lagi aku hanya diam dan memilih tersenyum untuk penilaian mereka terhadapku.

Ya jika tahun-tahun itu di total maka batas waktu yang melebihi batas waktu berlakunya SIM dan KTP itu sudah pada tahun ke enam. Dan selama itu aku hanya mampu menyampaikan rinduku melalui hujan yang datang menyapaku, aku hanya mampu mengungkapkan kekagumanku melalui senja yang berubah menjadi jingga dan aku hanya mampu berharap suatu saat kita menjadi titik yang tidak berakhir koma.

"Untuk DIA, yang ku tunggu selama 6 tahun ini. Untuk DIA yang menginspirasi setiap tulisanku. Jangan membuatku menunggu lebih lama atau di saat kamu menyadarinya, aku bukan lagi seorang koma tetapi aku telah menjelma menjadi titik dengan orang yang bukan kamu :)"

The End


Sunday, October 27, 2013

DIA (adalah Kamu ^^) 3

"Cinta bukan lagi tentang waktu, tapi cinta adalah keberanian mengungkapkan rasa"

Sore ini adalah sore paling mendamaikan dari semua sore, aku masih terpaku di tempat yang sama, masih terdiam dan masih melihat ke arah yang sama. Suara adzan membuyarkan lamunanku aku bergegas masuk ke dalam Masjid, entah mengapa aku tak ingin DIA menyadari keberadaanku, menyadari ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Ahhhh mengapa mataku rasanya tak ingin lepas melihat ke arahnya, bahkan pembatas yang memisahkan batasan antara shaf pria dan wanita tak mampu menghalauku untuk tetap memandang ke arahnya. Pandangan yang dua tahun belakangan terasa redup kembali bersinar lagi ^^.

Dua tahun yang aku habiskan dalam senyap rasanya kembali riuh, potongan-potongan siluet masa lalu kembali terputar ulang dalam memori ingatanku, rasanya sungguh aneh dia yang bukan siapa-siapaku mampu masuk dan meninggalkan sebuah jejak-jejak cerita yang panjang. Dan semua itu semakin aneh lagi, ketika memoar itu kembali menambah sebuah cerita dengan hanya memandang Dia. Waktu shalat telah usai, aku berjalan menuju teman-temanku dan Dia berjalan pada kumpulan anak-anak yang siap untuk belajar mengaji. Sungguh, Dia menambah satu hal yang ku sukai lagi darinya. Anak-anak itu tesenyum ke arahnya, berlari dan memeluknya. Pemandangan yang mendamaikan. Senyum itu, lagi-lagi senyum itu merekah dari bibirnya, aku menyukainya :).

Rapat yang ku hadiri bersama beberapa temanku telah usai, masing-masing dari mereka bergegas pulang meninggalku sendiri di Masjid yang masih terpaku dalam diam, dan masih menikmati lamunanku.

"Wiwi, belum pulang dek??"

suara itu mengagetkanku dari lamunanku, aku berbalik untuk sekedar melihat siapa orang yang menyapaku, dan ya Allah Dia menyapaku? Tidak Dia bukan hanya sekedar menyapaku tapi Dia juga tau siapa namaku, mungkin aku sangat GR mendengar sapaan darinya, tapi sungguh itu adalah sapaan pertamanya untukku :)

"He eh, belum kak tunggu jemputan"

Kataku setengah tergagap karena grogi, entahlah dia menyadari kegrogianku atau tidak, tetapi aku berharap dia tak menyadarinya.

Dia tersenyum ke arahku, senyum tulus yang selalu membuatku teringat padanya, dan aku lagi-lagi terpaku karena senyum itu :(
Aku berjalan mendahuluinya ke pelataran Masjid, terduduk dan memainkan pandanganku ke halaman Masjid yang luas, di luar dugaanku dia mengikuti dan duduk tak jauh dari tempatku. Hening, bahkan aku sampai tak mendengar suara angin maupun hembusan nafasku sendiri, mungkin aku terlalu grogi karena ada Dia di sampingku.

Aku mencuri pandang ke arahnya, memerhatikannya dengan seksama, ahhh dia serupa dengan ayah, seorang pria tenang, dingin dan tak banyak bicara dan aku semakin menyukainya, aku terfikir untuk mengatakan perasaanku padanya, tapi tidak aku seorang perempuan yang masih memegang prinsip kuno itu dan aku tetap memilih diam........


Friday, October 11, 2013

Lelaki Pertamaku

"Lelaki yang baik, adalah lelaki yang tidak pernah mengeluh di depan orang yang ia cintai"

Hembusan angin malam ini sangat menyejukkan, bau tanah basah setelah hujan sangat sempurna melengkapi malam ini. Malam yang berjalan dengan sangat lambat, membawaku kembali pada masa kanak-kanakku masa di mana aku selalu bersama dan mengikuti lelaki pertamaku. Ahhh aku merindukan lelaki pertamaku :(

Lelaki pertama yang aku panggil dengan sebutan bapak, pria tangguh yang tak kenal lelah mencari nafkah demi istri dan kedua putrinya. Aku ingat setiap aku meminta sesuatu darinya bapak tak pernah menolak, ia selalu berkata "Ya".

Bapak adalah sosok sempurna buatku, sikapnya yang kaku, dingin, tak banyak bicara dan satu hal yang terpenting adalah bapak bukan seorang "Perokok" membuatku ingin mencari sosok sepertinya, aku kagum padanya, tapi manusia tidak ada yang benar-benar sempurna kan?? bapak adalah orang yang sangat protek mengenai segala hal apalagi yang berhubungan sama seorang pria. Walau aku tau semua demi kebaikanku, tapi terkadang aku cukup marah dengan perlakuan bapak yang satu ini terhadapku :(. Bapak pernah mengatakan sebuah kalimat yang sampai hari ini tidak pernah aku lupakan.

"Tidak peduli siapa pacar kamu nak, siapa lelaki yang tengah dekat denganmu atau siapa tunangan kamu, karena orang yang bapak anggap sebagai pria adalah siapa lelaki yang gagah dan berani menemui bapak untuk meminangmu"

Kalimat yang sampai hari ini masih tetap aku pegang, kalimat yang melahirkanku sebagai seorang gadis yang tetap memilih dan memihak pada tradisi kuno, bahwa lelakilah yang harus terlebih dahulu menyatakan cintanya. Ya, mungkin terlihat kuno memang, tapi itulah salah satu garis tradisi yang berusaha di tanamkan bapak sang lelaki pertama untukku.

"Untuk lelaki pertama yang selalu aku rindukan, jaga kesehatanmu anakmu baik-baik saja di sini Miss you :*"


Thursday, October 10, 2013

DIA (adalah Kamu^^) 2



"Cinta adalah waktu, tentang rasa yang tidak di ungkapkan, tentang perasaan yang tetap di simpan"

Sudah dua tahun sejak DIA tak pernah ku lihat lagi dalam kehidupanku. Masa putih abu-abu kujalani dengan bumbu yang amat biasa, hanya seputar canda, tawa dan tangis dari sahabat, teman dan keluarga. Tak ada kisah pecintaan di dalamnya karena aku teramat atau mungkin sedikit egois untuk memilikinya hingga aku begitu mengharapkannya. Tidak aku menunggunya ya menunggu hingga, aku menutup diri dari setiap "teman" lelaki yang mendekatiku, aku bahkan menolak setiap ada yang dengan berani mengungkapkan perasaannya padaku. Terkadang aku berfikir siapa DIA? DIA bukan siapa-siapaku lalu mengapa aku menutup diri pada orang lain? mengapa aku menolak perasaan orang lain? aku mungkin terlihat bodoh menyimpan perasaanku hanya untuk DIA, tidak berani mengungkapkannya tapi aku dengan berani justru sangat mudah menolak perasaan orang lain.

Waktu berjalan dengan sangat lambat, aku terpuruk? tidak, sama sekali tidak aku terlalu pandai mengalihkan perasaanku, aku memang tak pernah menerima perasaan yang datang padaku, aku terlalu takut menyakiti mereka. Dua tahun yang begitu lambat, aku habiskan dengan aktif di kegiatan ROHIS SMAku, aku menjalani duniaku sendiri, tersembunyi di dalamnya dan menikmati setiap pergantian waktu yang begitu lambat, dunia yang hanya aku pahami seorang diri. 

Detik, menit, hari, minggu, bulan berganti menjadi tahun dan sampai pada titik dua tahun itu akhirnya aku bertemu kembali dengan DIA. Saat itu aku baru saja duduk di bangku kelas 3 SMA, aku yang cukup aktif di organisasi mendapat undangan pertemuan dari salah satu organisasi atau komunitas keagamaan yang bertempat di salah satu Masjid di kotaku (tak perlu ku sebutkan namanya), hari itu adalah sabtu paling indah dari semua sabtu yang ku lewati selama dua tahun ini. Aku takkan pernah lupa moment itu, sabtu sore itu pukul 15.30 untuk pertama kali setelah dua tahun aku melihatnya lagi, aku yang datang lebih awal dari teman-temanku terpaku di depan pintu Masjid, kaki ini rasanya tidak mampu lagi ku topang untuk berjalan, hanya mata yang tetap menatap pada satu arah karena DIA ada di sana, bersandar di bawah mimbar mengenakan celana hitam dan kemeja abu-abu, memegang sebuah buku dalam pelukannya dan tertidur dengan nyaman dan diamnya. 
















Wednesday, October 9, 2013

DIA (adalah Kamu^^) 1


 Cinta pertama itu memang sulit untuk di lupakan, seperti aku yang mencintai DIA selama 6 tahun. Oke bukan mencintai tetapi menunggu, menunggu DIA melihatku, atau mengatakan bahwa DIA juga mempunyai rasa yang sama denganku. Aku mungkin terlihat “Bego” menunggu untuk waktu yang lama hanya demi seorang DIA tapi itulah cinta kita bahkan rela di katakana gila hanya demi cinta.

6 tahun lalu di sudut kota yang jauh dari ibu kota untuk pertama kalinya aku melihat DIA. Aku tetegun melihatnya ada pesona dari dirinya yang menarikku agar tetap memperhatikannya, aku ingat betul moment itu ketika aku masih lengkap dengan pakaian seragam putih biruku, DIA yang datang ke sekolahku saat itu terlihat sangat tampan dengan pakaian putih abu-abu. Aku semakin terpesona pada saat yang sama DIA tersenyum padaku, Ya Allah hatiku bergetar ada sesuatu yang beda ketika DIA melintas tepat di hadapanku.

Aku tak tahu apa arti dari bergetarnya hati ku saat itu, karena yang terlintas di pikiranku hanya satu, aku harus satu SMA dengan DIA. Lain waktu saat jam sekolah telah usai, terkadang aku curi-curi waktu ke sekolahnya hanya sekedar untuk melihatnya, atau aku berusaha memerhatikannya lebih dalam walaupun itu ku lakukan lewat secara jarak jauh, aku mencari tahu makanan favoritnya, warna apa yang sering dia gunakanan dalam kesehariannya sampai dengan siapa saja DIA sering bergaul. Ahhh cinta sungguh istimewa ^^

Akhirnya saat yang paling aku nantikan telah tiba, saat pakaian seragam putih biru akan segera berganti dengan pakaian putih abu-abu.jujur aku sangat antusias, dalam fikiranku hanya ada DIA. Bahkan dalam otakku yang terlintas adalah apa yang harus kuucapkan ketika aku bertemu dengan DIA nantinya.
Tetapi kejutan yang seharusnya indah saat itu, justru harus menuai ending yang menyakitkan. Ternyata DIA sudah lulus saat aku menginjakkan kaki di SMA yang sama dengannya hiks hiks hiks sungguh menyakitkan -_-.
Tapi hanya soal waktu, karena cinta memang adalah waktu ketika AKU dan DIA ^^.......