Sunday, December 28, 2014

Surat Kesekian

"Malam, ditengah sunyi ada rindu yang merasuk. Ada kenang yang menyesakkan"

Malam ini, di bawah atap bumi kegundahan kembali datang menyiksa. Mempertanyakan segala yang bahkan mungkin saya sendiri tak paham apa jawabnya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mungkin ketika di tanyakan pada seseorang akan sangat terlihat mudah, tetapi ketika kita di minta untuk menjawabnya terasa amat sangat sulit. Pertanyaan yang dimulai dengan mengapa saya menyukai kamu? mengapa saya mengagumi kamu? dan mengapa saya tega menyimpan rasa terhadapmu? Pertanyaan yang seketika membuat saya mempertanyakan sendiri kewarasan saya.

Kamu, saya pernah dan masih menyukai kamu, saya pernah dan juga masih kagum padamu, dan saya lagi-lagi pernah dan masih menyimpan rasa terhadapmu. Entah harus dari mana lagi saya memulainya, rasa-rasanya menanyakan kabar menjadi terlalu biasa dan bahkan sangat canggung, bagi saya dan kamu yang sudah terlalu lama bermain-main dengan waktu. Tetapi tetap saja, semenjak kita dipisahkan oleh jarak, semenjak saya mulai rajin menyebut namamu dalam perbincangan saya pada Tuhan, dan semenjak senja tak lagi seindah dulu, sehingga saya memutuskan menikmati indahnya fajar saya hanya mampu berucap bahwa saya merindukan kamu.

Saya merindukan kamu melebihi kerinduan saya pada ladang dandelion, saya merindukan kamu melebihi kerinduan saya berlari dibawah rinai hujan, dan saya merindukan kamu melebihi kerinduan saya ketika kamu menanyakan bagaimana kabar saya. Betapa beruntungnya kamu, dibalik segala hal yang tak bisa saya sisakan, kerinduan terhadapmu masih saja enggan untuk meninggalkan.

Dua vokal yang diapit tiga konsonan
Ditengah malam yang semakin pekat, dan diantara bintang yang bersembunyi dibalik langit malam izinkan saya mengirimkan surat kesekian ini untukmu, dibelahan mana pun kamu, cukuplah kamu dengan segala aktivitas hari ini, beristirahatlah sayang.

Friday, December 26, 2014

Semacam Rindu

"Sekalipun hati harus menanggung sayatan luka-luka kecil akibat kekecewaan"

Semacam rindu, perasaan yang merasuk kala adzan memanggil untuk segera bersimpuh dihadapan NYA. Subuh tadi, ditengah dingin yang tak kunjung bisa aku kuasai, perasaan gelisah tanpa sebab merasuk merusak kenyamanan pagi yang seharusnya menyenangkan. 

Semacam rindu, perasaan itu kembali mengingatkan pada memoar-memoar luka yang dipenuhi kekecewaan. Tentang kesetiaan yang tidak berujung pada kebersamaan, tentang embun yang tidak tertinggal di pagi hari dan tentang pelangi yang tak ditemui sehabis hujan.

Semacam rindu, ketakutan itu mampu meninggalkan goresan-goresan kelam yang aku tahu sebabnya bahwa aku ingin melupakan.
Semacam rindu, aku cukup menikmati luka dengan berpura-pura tidak suka.
Semacam rindu, setelah ini kumohon jangan pernah datang kembali. 
Sebab, aku bahagia menjadi luka

Aku Tunggu Kamu Di Sini

"Karena rasa tidak pernah merasa benar-benar dimiliki. Sebab, segala yang terjadi karena Allah yang mengizini"

Kota ini kembali memasuki musim penghujan, layaknya perindu yang akan kembali merindukan, layaknya malam yang menggantikan siang, dan layaknya hujan yang diumpamakan pembawa pesan rindu, izinkan aku kembali berucap selamat malam kamu, lelaki yang tak pernah lalai melupakan Tuhannya. Kabarmu, tak perlu aku pertanyakan. Sebab, postingan-postinganmu menjawab segala tanda tanya itu.

Kamu, aku merindukan waktu dimana kita duduk saling bertukar cerita, tentang hal-hal baik yang sedang kita perjuangkan.
Aku rindu dimana kamu selalu bisa menasehatiku, tapi tidak menggurui disaat rapuh datang.
Kamu, aku merindukan waktu dimana aku bisa melihatmu bersimpuh dihadapan Tuhanmu.
Dan kamu, aku menanti waktu dimana bibirku mampu berucap jujur padamu.

Suatu saat, aku menjanjikan waktu untuk jujur padamu.
Suatu saat, aku menjanjikan perasaan untuk tidak diingkari lagi, dan
Suatu saat ketika kamu memiliki keberanian, maka bersegeralah untuk menanyakannya padaku.
Aku tunggu kamu di sini.

Thursday, December 25, 2014

Maafkan Aku Menyukaimu

Diantara malam yang semakin pekat, diantara hujan yang semakin tak bersahabat izinkan aku mengucap selamat malam padamu, lelaki sederhana yang amat suka melipat lengan bajunya. Di belahan mana pun kamu, ku harap kamu selalu dalam penjagaan NYA. Perihal waktu, rasanya delapan tahun bukanlah waktu yang amat singkat untuk memiliki rasa terhadapmu, tetapi bukanlah waktu yang teramat cepat pula, untuk menghapusmu dalam setiap catatan-catatan rindu yang tanpa kamu ketahui ada kamu di dalamnya.

Melihat linikala kepunyaanku, harus ku akui entah sudah berapa banyak surat tak sampai yang telah aku tuliskan kepadamu, entah sudah berapa banyak waktu aku habiskan untuk mencintaimu dalam diam dan entah berapa banyak ucapan rindu aku titipkan setiap hujan datang menemuiku. Kesederhanaanmu membuatku bertahan untuk tetap mencintaimu, kesederhanaanmu membuatku memilih ketidakpastian daripada kepastian, dan lagi kesederhanaanmu membuatku menunggu tanpa kamu ketahui bahwa kamu yang aku tunggu.

Sederhananya kamu adalah cara ku menaruh hati padamu, sederhananya kamu adalah ketidaksederhanaan yang dianugerahkan Tuhan untukku. Kamu, adakah kelak akan ada waktu untuk kita melebarkan sajadah dan sujud bersama? Adakah kelak akan ada waktu dimana kamu mengimamiku, mengajakku bertemu sang pemilik cinta yang sebenar NYA? dan adakah kelak akan ada waktu kita duduk berhadapan ditemani secangkir teh hangat hanya untuk sekedar bersenda gurau? 

Pada akhirnya, apa salahnya berharap pada hari-hari depan. Bukankah sangat menyenangkan, menebak-nebak labirin mana yang paling tepat untuk dilalui? Bukankah sangat menyenangkan, bertanya-tanya dikamukah ini akan berakhir? Meminta dan memantaskan diri adalah pekerjaan yang harus aku lewati untuk kehidupan yang lebih baik.


"Untuk dua vokal yang diapit tiga konsonan, maafkan aku menyukaimu" 




Thursday, November 13, 2014

Jawaban Allah

Siang ini, ditengah rinai hujan yang membasahi kota ini aku mendapatkan sebuah kabar bahagia dari seseorang yang begitu istimewa. Dari seseorang yang mengajarkanku bagaimana arti kesabaran, bagaimana ikhlas itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk saling berdamai dan bagaimana yang baik itu belum tentulah tepat. 

Kala itu dibulan september, tepat sehari sebelum kepulanganku ke tanah rantau aku dan dia pernah saling bercerita, tentang tujuh tahun yang akhirnya dikalahkan oleh satu setengah bulan, tentang dia yang menjadi jawaban dari doa-doa tulus yang senantiasa dipanjatkan kepada Allah, tentang dia yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan "Nyinyir" yang tak pernah dan memang sengaja untuk tidak dijawab sebelum waktunya. 

Sempat aku menganggapnya begitu bodoh, melepaskan apa yang sudah dimilikinya. Bahkan, sempat aku menganggapnya aneh, perempuan mana yang ingin melepaskan sesuatu yang telah lama diperjuangkan, hanya butuh waktu untuk membuatnya menjadi milik kita sepenuhnya. Sayangnya aku terlalu menganggap remeh dirinya, dia membuktikan banyak hal padaku tentang ketulusan, kesabaran dan keikhlasan. Sungguh betapa beruntungnya dirimu kak. Pilihan dan keputusanmu mengajarkan banyak hal padaku. Ditemani hujan dan gemuruh guntur, ditemani kerinduan untuk bercerita tentang banyak hal, dan ditemani rasa penasaran tentang lelaki beruntung itu izinkan aku mengucap

"Barakallahulaka wabaroka'alaika wajama'a bainakumaa fiikhoir"

Maafkan aku yang tak bisa hadir memenuhi kabar bahagiamu kakak, tetapi doaku Inshaa Allah akan selalu terucap untuk kebahagiaan kakak, sebab doa sejauh apapun jarak kita Inshaa Allah akan senantiasa diijabah oleh Allah SWT. Selamat menapaki jalan yang baru kak, sekali lagi selamat, dan diakhir sampaikan salam ku untuk kakak satu setengah bulan, untuk dia yang Inshaa Allah akan menjadi pemilik tulang rusuk kakak.

Karena tak pernah ada cinta yang percuma
Karena tak pernah ada cinta yang mengenal waktu
Teruntukmu kakak Andi Noor Ifrahrifat dan kakak 1,5 Bulan 



Saturday, September 13, 2014

Genggam Tanganku (Cukup) Kali ini

Malam semakin pekat, angin semakin berhembus dan aku masih terjaga dengan perasaan rindu yang luar biasa.

Dear kamu...
Lelaki berkumis tipis itu, apa yang kamu lakukan malam ini? 
Adakah rindu menjalari hatimu?
Seperti ia merasuk dengan sempurna menghancurkan pertahananku, atau kamu masih tetap sama tidak menyadari atau pura-pura tidak tahu bahwa ada hati yang sedang merindukanmu.

Dear kamu...
Lelaki yang tidak lain adalah adik dari sahabatku, entah sejak kapan perhatian serta rasa kagum ini berubah menjadi perasaan yang sulit untuk kuartikan. Entah sejak kapan pula, aku mulai merasa malu untuk hanya sekedar bertatap muka denganmu. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan, dari bermilyar-milyar lelaki dimuka bumi ini mengapa harus kamu "lelaki itu", mengapa harus pada kamu rasa itu tumbuh menyerupai perasaan pohon kepada dedaunannya.

Dear kamu...
Lelaki yang ku anggap "adik" (dulu) tetapi dikamulah hatiku berhenti, memberi tanda finish, menyuruhku untuk tidak lagi mencari seakan bertanya "apa lagi yang kamu cari, jika yang didamba berada sangat dekat denganmu?" 

Ahhh kamu lelaki itu...
Bukannya takut buatku untuk mengungkapkan, tetapi terkadang yang aku takutkan adalah rusaknya rasa nyaman diantara kita, seumpama kamu yang menganggapku kakak, pun begitu aku yang menganggapmu adik hanya karena aku adalah sahabat kakakmu. 

Dear kamu...
Diantara kesunyian malam, kularungkan doa pada Tuhan, memohon dan meminta, cukup kali ini saja genggam tanganku tak perlu lama, tak perlu juga kamu tatap diriku cukup genggam tanganku.

"Ku persembahkan tulisan ini untukmu Dwi"


Wednesday, July 9, 2014

Untuk Mama...

Dear mama
Ku tuliskan surat ini dengan rasa rindu yang tidak sanggup diungkapkan para perindu kepada pujaannya, ku tuliskan dengan penuh cinta yang mengalahkan cinta romeo kepada juliet, ku tuliskan dengan perasaan sayang yang mengalahkan rasa sayang majnun kepada laila dan ku tuliskan disaat aku memilih untuk menyendiri, di tengah keramaian hanya untuk menikmati diam.

Ma, kau tahu wanita hebat itu apa?
Bukan tentang jabatan ia disebut hebat, tetapi tentang keteguhan hatinya menjaga, menerima dan melindungi serta mendidik anak-anaknya lah maka ia di sebut hebat. Aku memiliki mu ma, seperti mama memiliki aku. Ya kita memiliki kita ma. Kepercayaan mu pada ku adalah anugerah luar biasa yang tidak dimiliki mereka yang memilih "bebas" dengan cara yang salah.

Aku beruntung terlahir dari rahimmu, di saat teman-temanku memilih pulang ketika semuanya telah usai, kau justru membiarkan ku menempuh jalan yang berbeda. Melepaskanku lebih jauh dari tempatmu berpijak, melepaskanku demi sebuah kata yang aku sebut "cita-cita". Terima kasih ma, untuk segalanya. Sebut aku disetiap perbincanganmu dengan Tuhan, peluk aku disetiap rukukmu dan cium aku disetiap sujudmu. Aku menyayangi mu ma :*

Untuk mama...
Wanita kuat di tengah badai. 
Untuk mama...
Wanita berwajah surga. 
Untuk mama...
Aku menyayangimu

Sunday, June 1, 2014

Surat Untuk Kamu

Waktu menunjukkan pukul 1:45 dini hari saat ku tuliskan surat ini untukmu, ditengah perasaan rindu yang begitu sesak, ditengah uraian kata yang tak mampu kuucapakan menjadi sebuah kalimat, kuputuskan untuk menyapamu lewat sebuah surat. Tak banyak kata yang ingin ku rangkai untukmu, kau tahu mengapa? karena rasa rinduku telah mewakili setiap ungkapan yang tak pernah sampai untukmu.

Kamu...
Aku tak sedang ingin menanyakan kabar, karena aku sangat tahu kamu bukanlah orang yang ceroboh untuk tidak menjaga kesehatanmu. Aku pun tidak sedang ingin berbasa-basi hanya untuk sekedar membuka percakapan denganmu. Sekali lagi, aku hanya ingin mengungkapkan rasa yang tidak pernah atau sengaja untuk tidak aku unggkapkan padamu. 

Kamu...
Bisa kah hadir sekali lagi dalam tidur singkatku?
Membiarkan aku menikmati senyum yang tersungging dari bibirmu, menikmati sinar yang selalu terpancar dari teduhnya tatapan matamu, (lagi) biarkan aku menikmati sujudmu yang selalu khusuk didepan Tuhanmu. Sekali pun itu hanya dalam bunga tidurku. 

Kamu...
Jika surat ini sempat kau baca, bisa kah kau datang kepadaku?
Menggenggam erat tanganku dan tidak lagi kau lepaskan, mengajakku bersimpuh di hadapan Tuhan, melebarkan sajadah lalu bersujud mengucap syukur pada Nya, atau bisakah kamu mengikatku dalam sebuah ikatan sakral yang di ridhoi sang pemilik cinta yang sesungguh Nya.

Kamu...
Bisakah membalas rinduku?



Lagi, untuk kamu sang pemilik dua vokal yang diapit tiga konsonan




Wednesday, May 28, 2014

Cita-Cita Untuk Kakak

Mei yang hampir usai, entah "serangan fajar" apa yang melandaku kali ini, akhirnya kuputuskan untuk membayar hutang tulisanku yang seharusnya sudah ku lunasi dua minggu lalu. "Oke fix" (Ala-ala wendy) berawal dari dua minggu yang lalu aku kembali bertemu dengan adik-adik di salah satu Sekolah Dasar yang ada di Makassar dalam rangka #Donasi2Jam #MenulisBarengSobat salah satu program dari Sobat Lemina, kedatanganku kali ini seperti dua minggu sebelumnya untuk mendampingi adik-adik belajar menulis. Bukan karena mereka tidak bisa menulis, hanya saja pendampingan yang ku lakukan bersama beberapa teman di maksudkan untuk membantu adik-adik menghilangkan tulisan "okkots" mereka, serta membantu mereka mengenali penggunaan huruf yang tepat. Minggu ini pula akan dipilih tiga tulisan terbaik dari adik-adik untuk dibuatkan mading. 

Tema yang ku berikan kepada adik-adik minggu ini adalah "Cita-cita ku". Beberapa adik menulis dengan cukup baik kali ini, setidaknya "okkots-okkots" yang biasanya memenuhi tulisan mereka sudah mulai berkurang populasinya :). Dari beberapa tulisan, ada salah satu tulisan yang menarik perhatianku...

Tulisan Adik Diva Pancarani, sekarang usianya 10 tahun

Cita-cita yang mulia, di usianya yang masih sangat muda namun ia telah memutuskan untuk meneruskan cita-cita sang kakak. Diva Pancarani adalah salah satu adik yang kami pilih dengan tulisan terbaik, saat pengumuman dibacakan tanpa di sangka Diva tiba-tiba menangis. Aku menghampiri Diva, memeluknya dan bertanya kepada gadis cilik ini.

"Kenapa menangis dek?" tanyaku sambil mengelus kepalanya, membiarkan ia nyaman didekatku.
Sambil sesekali menyeka air mata di wajahnya, ia tersenyum dan menatapku "Tidak ji kakak, ku ingat ji kakakku. kalau masih hidup senang ki pasti bisa jadi polisi." jawabnya sambil berlari meninggalkanku.

Kalimat yang masih ku ingat hingga hari ini, Allah lagi-lagi menunjukkan kuasanya padaku, untuk menjadi dewasa dalam sikap bukanlah karena usia tetapi karena pilihan. Gadis cilik ini telah menunjukkan hal itu padaku tanpa dia sadari. Pertemuan yang berlangsung dua minggu sekali ini, meninggalkan cerita yang menakjubkan. Rutinitas yang menyenangkan, ketika aku bisa ambil bagian untuk membantu adik-adik menuliskan perasaan dan pikiran mereka dalam sebuah tulisan. Ketika mimpi dan cita-cita yang ingin dicapai dapat diperoleh dari setiap kejadian yang kita alami.

"Untuk Diva Pancarani, gadis kecil yang penuh semangat. Semoga cita-citamu tercapai dek dan semoga kakak Diva tenang di sisi Allah SWT :)"



Friday, February 21, 2014

Janji Tetesan Hujan

Ini bukan tentang rindu, tapi ini adalah sebuah janji di antara tetesan-tetesan hujan. Kamu pernah bertanya dan bercerita tentang wanitamu, tentang kisahmu yang membahagiakan. Tentang dia yang memelukmu di bawah rinai hujan tanpa adanya sekat, aku mendengarkan. Lain waktu, kamu datang dan (masih) bercerita tentang dia wanitamu tapi kali ini cerita berbeda yang kamu bawa, tentang dia yang pergi dan menjauh darimu demi sang pangeran. Matamu basah, aku sedikit tercengang bagaimana mungkin seorang lelaki perkasa, seorang lelaki yang ku kenal begitu gagah terlihat sangat menyedihkan hanya karena seorang cleopatra.

Perasaan cemburu merasuk, jujur aku tak suka merasakannya. Aku yang berjalan di sampingmu lebih lama di kalahkan oleh dia yang baru kamu kenal setelah aku. Terkadang aku bertanya, apa yang kamu sukai darinya? Mengapa harus dia? Gadis itu, serupa pupuk yang menyuburkan sang bunga, serupa lebah yang menemukan sarang madunya. Kamu lelaki perkasa itu harus rapuh di tangan seorang cleopatra, seseorang yang kamu puja dan kamu banggakan sekalipun ia sudah menaburkan luka akibat kekecewaan di hatimu.

Aku paham dan menikmati sang waktu, di lain hari kamu dan aku adalah sepasang sepatu yang saling melengkapi, saling memberi tawa tanpa pernah ada jeda. Kamu tahu, sekarang menjadi tidak penting lagi hubungan apa yang sedang kita jalani, tetapi satu hal yang pasti seperti janji kita di antara tetesan hujan, jika kamu merasa rapuh selalu ada aku yang akan tetap memegangmu erat tanpa enggan untuk melepaskan dan membiarkanmu berjalan seorang diri.

"Tetesan-tetesan hujan ini, membawaku pada ingatan masa lalu dan disetiap perciknya melahirkan bulir-bulir rindu tentangmu"

Ku persembahkan tulisan ini untuk DIA, sang pemilik dua vokal yang di apit oleh tiga konsonan. Sang pemilik rindu, yang tidak mengalahkan pemilik rindu yang sebenarNya :) 




Saturday, February 15, 2014

Menunggu

Pada sebuah jarak kita menemukan tempat, seperti lebah yang menemukan bunga, atau pun harimau yang menemukan mangsanya. Malam tidak lagi pekat begitu katamu, panas tidak lagi menjadi penghalang ataupun hujan tidak lagi menyusahkan. Seperti waktu yang terus berganti kita pada akhirnya menemukan sebuah rumah untuk berteduh, tidak berbalik untuk saling merangkul, atau pun tidak tetap tinggal untuk saling menyakiti. Aku tak pernah memaksamu untuk berlari atau pun berjalan ke rumah yang lain, bahkan aku lebih tak pernah memaksamu untuk hanya sekedar singgah. Jika kamu wanita maka tegaslah, bukankah seorang wanita dewasa tak pernah ragu dalam mengambil keputusan?

Aku dan kamu terlahir dari rahim yang sama, rahim seorang ibu yang cantik, seorang wanita yang berwajah surga, sekali pun begitu kita adalah pribadi yang berbeda. Dear kakak yang cantik, kakak yang selalu berusaha menjadi perisai ketika sang adik terkena pedang, kakak yang selalu menjadi payung ketika adiknya yang egois ini terkena hujan, aku bahagia ketika kamu mengabarkanku tentang rumah barumu, ketika kamu bercerita tentang pekerjaan barumu, ahhh kakak aku merindukanmu. Aku merindukan sosok yang selalu menjaga serta menyemangatiku, tak peduli tentang mereka yang selalu meremehkanmu yang jelas kamu adalah sosok yang sangat aku banggakan.

Dear kakak, keputusanmu telah kau buat, kini jarak antara kamu dan aku semakin jauh, awalnya aku kecewa tapi kamu selalu meyakinkanku walau bagaimana pun seorang kakak pada akhirnya tidak (lagi) menjadi kakak, dan seorang adik pun pada akhirnya harus bisa berjalan sendiri. Kak, terima kasih sudah menjadi kakak yang baik selama ini, sudah menjadi perisai dan payung diwaktu bersamaan untukku. Jangan pernah letih mengingatkan adikmu yang bandel ini, jangan pernah lupa untuk memarahiku ketika aku sedang khilaf. 

Jarak menguji kita untuk saling merindukan, jarak menguji kita untuk saling mempererat cinta. Jika kamu letih atau tak bisa lagi melawan rindu, maka pulanglah selalu ada aku, bapak, dan mama yang selalu menunggumu, baik-baiklah di sana kakak, jaga kesehatanmu yang terpenting jaga ibadahmu :*


"Untuk Apritawarti Aswan kakak yang selalu menjelma menjadi perisai dan payung untuk adiknya yang egois dan manja, peluk cium dari adikmu di Makassar"





Say It With Books

Haiii februari apa kabar kamu?
Apakah kamu baik-baik saja?
Apakah harimu sebaik hari-hariku? atau justru sebaliknya.
Ahhh tak ada jawaban sebaik jawaban yang aku punya, februari bulanmu sangat menakjubkan untukku bagaimana tidak aku menemui banyak cinta dari setiap mereka yang ku temui di februariku. Bulan ini aku mulai dengan Praktek Kerja Lapangan sebagai syarat untuk menyelesaikan study akhir ku, semua berjalan dengan menyenangkan mendapat pengalaman baru, teman baru dan tentunya suasana yang baru pula. Tetapi dari sekian hari yang ku lalui di februari ini tanggal 14 februari adalah hal yang paling berkesan untukku. Bukan karena hari yang mereka sebut sebagai hari "valentine" itu yang membuatnya menyenangkan dan berkesan, tetapi bertepatan dengan tanggal 14 februari aku dan beberapa teman yang tergabung dalam komunitas @PenyalaMakassar mengadakan kegiatan yang bernama "Say It With Books" katakan dengan buku. Cinta tidak melulu soal cokelat atau pun bunga, tetapi cinta adalah peduli kepada mereka yang membutuhkan dan salah satu bentuk cinta adalah ketika kita mau mendonasikan buku kita yang sudah tidak di gunakan lagi kepada adik-adik kita di pelosok negeri ini. 

" Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya"

Ketika kamu peduli maka bertindaklah, peduli bukan soal mengungkapkan dan menuntut tetapi peduli adalah bertindak. SIWB di laksanakan dari pukul 08.00 sampai 20.00 WITA, kami menerima sumbangan buku dari mereka yang peduli terhadap pendidikan anak-anak di pelosok negeri. Akses yang sulit menyebabkan mereka terkendala soal buku baik buku sekolah atau pun buku bacaan, maka kami @PenyalaMakassar hadir sebagai salah satu wadah bagi mereka yang ingin berdonasi.

@SobatLemina secara simbolis memberikan donasi bukunya kepada teman-teman @PenyalaMakassar
Mereka yang peduli :)
Selain donasi buku, dalam kegiatan SIWB kali ini teman-teman dari beberapa komunitas ikut tampil untuk memeriahkan acara di antaranya teman-teman dari @StandUpIndoMKSR yang di wakili oleh @dirgarinaldi, @street_capoeira, @comasu_mks, @lendabook_mks, @kpajmks (yang di wakili oleh adik Fatma, ahhh merinding ngeliat kamu bacain puisi adik cantik :*),  serta teman-teman dari @izoc_mks. Tiada kata yang mampu di ucapkan selan terima kasih.

Perform dari teman-teman comasu

Penampilan teman-teman Izoc

Teman-teman dari Spasi yang bersedia menyediakan waktu untuk memeriahkan acara :*

Pada akhirnya kebersamaan kita harus di akhiri

Peduli bukan soal pujian, tetapi peduli adalah semangat yang selalu di wujudkan. Ketika kita bicara soal semangat mereka lah orang-orang berjasa di balik penyelenggaraan SIWB.
Street campaign sebelum pelaksanaan Say It With Books ( SIWB)
Semangat kalian luar biasa :*

Salah satu wujud cinta, adalah ketika kita mampu mengajak orang mengganti cokelat ataupun bunga menjadi buku atau ketika kita bisa menjadikan 14 februari sebagai hari berdonasi buku.

Bagaimana mungkin saya tidak mencintai kalian, bahkan saat hujan semangat kalian tidak padam.
Pada akhirnya, saya tidak akan pernah malu ketika harus mengatakan bahwa kalian kakak-kakak @PenyalaMakassar HEBAT, kalian KECE, kalian KEREN dan saya bangga bisa menjadi bagian dari kalian :*
 Di balik kata lelah, di balik persiapan yang panjang, dan di balik jatuh bangun mempersiapkan SIWB selalu ada senyum yang membahagiakan :). 

Ku persembahkan tulisan ini untuk mereka yang pertama kali ku temui di event MIWF
Untuk mereka yang selalu mampu menyalakan semangatku
Untuk mereka yang selalu peduli
Untuk mereka yang selalu punya tempat di hatiku
Penyala Makassar :*












Friday, January 10, 2014

Kenangan

Aku tak pernah suka bercakap denganmu, hingga waktu memaksa kita untuk berjalan ke arah yang berbeda, alasannya sederhana karena aku terlalu malu bertatap wajah denganmu. Kamu mungkin tak pernah tahu kebiasaanku, hingga kamu pergi bersama angin tanpa meninggalkan jejak yang bisa aku kenang. Tetapi, kamu adalah bagian dari kisah yang tidak akan pernah terlupakan. Kepergian yang menyesakkan itu hanya meninggalkan sebuah ucapan "Rindu" yang tidak pernah kamu dengar, kepergian itu jugalah yang membuat kakiku tak sanggup untuk menopang tubuhku ketika aku melihatmu dari kejauhan. Sungguh, kepergianmu membuatku hanya bisa menikmati kerinduan melalui sebuah gambar.

Kamu adalah bagian kecil dari cerita hidupku yang panjang. Ingatkah kamu, ketika kamu pernah berucap bahwa kamu sangat menyukai hujan, tetapi kamu menggunakan payung untuk berjalan di bawahnya. Atau ketika kamu juga pernah berucap, bahwa kamu sangat menyukai matahari. Akan tetapi, kamu menghindar ketika sinarnya menerpamu. Dan kamu juga sangat sering berucap, bahwa kamu menyukai angin.Tetapi, kamu menutup semua pintu dan jendela rumahmu ketika angin berhembus. Alasan inilah yang menyebabkan aku selalu ragu, ketika kamu menyatakan bahwa kamu menyukaiku. Pendirianmu yang selalu berubah adalah jawaban dari setiap keraguan yang aku miliki.

Kamu menciptakan banyak kenangan dalam kisahku, entah itu bahagia, sedih atau meyakitkan sekalipun. Tetapi aku tetap menyukai setiap potongan-potongan kenangan itu dalam bentuk apapun. Kepergian yang tidak pernah kamu sesali (aku harap begitu). Kenangan yang menciptakan aku dan kamu yang belum sempat menjadi kita, kenangan yang menghadirkan aku dan kamu baru sebatas koma, dan kenangan yang membuat aku dan kamu berjalan ke persimpangan yang berbeda.

                          "Untuk Pemilik Rindu yang Sebenarnya"

Wednesday, January 8, 2014

Jarak

Harapan adalah jawaban ketika jarak adalah sebuah pertanyaan. Aku berbincang dengan embun, saat fajar malu-malu menampakkan wajah. Perbincangan hangat yang lebih banyak di dominasi oleh hening, ia seolah-olah bertanya tentang pengembaraanku denganmu, tentang perjalanan waktuku yang panjang hingga aku akhirnya kembali ke tempatku.

Aku bercerita tentangmu, tentang keoptimisanmu, tentang cintamu hingga tentang harapan yang tidak pernah kamu realisasikan menjadi sebuah kepastian. Pengembaraan kita (dulu) kini hanya menjadi sebuah cerita yang tidak lagi punya arti, dulu aku ragu bisa mengembara bersamamu, tetapi kamu meyakinkanku dengan caramu yang sangat hebat dan menakjubkan. Aku terpukau, hingga akhirnya memilih berjalan di sisimu. Saat badai mulai mendekati kita, aku tahu bahwa kamu adalah orang pertama yang mudah goyah dan jatuh. Jujur sejak saat itu, aku tak lagi kuat mengembara bersamamu. Tetapi Tuhan selalu meyakinkanku dengan caraNYA, bahwa aku harus selalu mendampingimu. Jika dengan aku saja kamu begitu mudahnya di jatuhkan, maka tak ada jaminan dengan orang yang bukan aku kamu akan bertahan.

Fajar akhirnya pergi, dan tepat saat itu matahari dengan tampak malu-malu mulai menampakkan wajahnya, embun kembali lenyap dan tak terlihat lagi dari pandanganku, pada saat yang sama aku kembali bernostalgia dengan masa laluku. Saat aku mulai merangkai kepastian denganmu, kamu justru memilih jalan yang berbeda denganku. Kamu berhasil mematahkan kepercayaanku, menghancurkan kepastian yang susah payah aku bangun. Seharusnya aku tahu sejak awal kamu adalah pemberi harapan, bukan kepastian, kekecewaan itu begitu memuncak menghancurkan segala angan, pedih rasanya ketika pengembaraan itu harus berlanjut tetapi dengan arah yang berbeda.

Kini, pengembaraan kita adalah sebuah jarak, kamu mengembara dengan harapan yang lain, sedang aku masih tetap menunggu dengan kepastian yang sama. Aku tak lagi menganggapmu sebagai masa lalu yang harus aku ingat, tetapi satu hal pasti yang seharusnya kamu tahu, bahwa kamu adalah jarak yang tidak bisa lagi aku harapkan.

"Pemilik yang seharusnya tidak aku harapkan"